Hala Na Godang

Batak – Sumatera Utara

The story of Hala Na Godang is a profound piece of Batak mythology from North Sumatra. It isn’t just a tale of a monster; it serves as a cosmological explanation for earthquakes and the balance of the universe.

Here is the complete story translated into English:


1. Who is Hala Na Godang?

In Batak mythology, Hala Na Godang is depicted as a giant dragon or a massive scorpion. The name literally translates to “The Great Scorpion” (Hala: scorpion, Godang: great/large).

It is believed to dwell in the lowest layer of the universe, known as Banua Toru (The Underworld).

2. Role in Batak Cosmology

Batak mythology divides the universe into three realms (Tolu Banua):

  1. Banua Giniang (Upper World): The realm of the gods (Mulajadi Na Bolon).

  2. Banua Tonga (Middle World): The realm where humans live.

  3. Banua Toru (Lower World): The realm of spirits and ancient creatures, including Hala Na Godang.

Hala Na Godang is believed to be the creature that supports the weight of the Earth (Banua Tonga) on its back. Because of its vital position, every movement it makes has a direct impact on human life above.

3. The Origin of Earthquakes

Ancient Batak society explained natural phenomena through this creature’s existence. It is said that if Hala Na Godang becomes tired, hungry, or simply wants to shift its sleeping position, it moves its massive body.

  • Small Movements: Cause light tremors or minor quakes.

  • Large Movements: Result in devastating earthquakes that can destroy villages.

Oral Tradition: In the past, when an earthquake struck, Batak people would shout “Suhul… suhul…!” (Suhul refers to a supporting pillar) or strike loud objects. This was intended to tell Hala Na Godang to settle down and remind it that humans were still living on its back.

4. Symbolism in the Pustaha Laklak

Stories and depictions of Hala Na Godang are frequently found in the Pustaha Laklak (ancient Batak bark books). In traditional Batak astrology and the calendar system known as Pane na Bolon, the figure of the dragon/scorpion is used to determine cardinal directions and timing.

A Datu (shaman) would observe the position of Hala Na Godang’s “head” and “tail” to decide:

  • The best time to start planting crops.

  • Auspicious days for building a house.

  • Which directions to avoid during war to escape misfortune.


Conclusion

Hala Na Godang is a personification of the uncontrollable forces of nature that serve as the world’s foundation. It serves as a reminder to humans that we live atop something far greater and more powerful than ourselves, making respect for nature a core value of Batak wisdom.

Kisah tentang Hala Na Godang merupakan salah satu mitologi yang sangat mendalam dari tradisi suku Batak di Sumatera Utara. Makhluk ini bukan sekadar monster, melainkan simbol kosmologi yang menjelaskan asal-usul gempa bumi dan keseimbangan dunia.

Berikut adalah uraian lengkap mengenai sosok legendaris ini:


1. Siapa Itu Hala Na Godang?

Dalam mitologi Batak, Hala Na Godang digambarkan sebagai seekor naga atau kalajengking raksasa yang sangat besar. Namanya sendiri secara harfiah berarti “Kalajengking Besar” (Hala: kalajengking, Godang: besar/agung).

Ia dipercaya tinggal di lapisan bumi paling bawah, yang disebut sebagai Banua Toru (Dunia Bawah).

2. Peran dalam Kosmologi Batak

Mitologi Batak mengenal pembagian semesta menjadi tiga bagian (Tolu Banua):

  1. Banua Giniang (Atas): Tempat para dewa (Mulajadi Na Bolon).

  2. Banua Tonga (Tengah): Tempat tinggal manusia.

  3. Banua Toru (Bawah): Tempat tinggal roh-roh dan makhluk purba, termasuk Hala Na Godang.

Hala Na Godang dipercaya sebagai makhluk yang menopang beban bumi (Banua Tonga) di punggungnya. Karena posisinya yang sangat vital ini, setiap gerakannya memiliki dampak langsung bagi kehidupan manusia di atasnya.

3. Asal-Usul Gempa Bumi

Masyarakat Batak zaman dahulu menjelaskan fenomena alam melalui keberadaan makhluk ini. Konon, jika Hala Na Godang merasa lelah, lapar, atau ingin mengubah posisi tidurnya, ia akan menggerakkan tubuhnya yang masif.

  • Gerakan Kecil: Menyebabkan getaran ringan atau gempa kecil.

  • Gerakan Besar: Menyebabkan gempa bumi dahsyat yang bisa menghancurkan desa-desa.

Tradisi Lisan: Dahulu, saat terjadi gempa, masyarakat Batak sering berteriak “Suhul… suhul…!” (Suhul adalah tiang penopang) atau memukul benda-benda keras. Tujuannya adalah untuk memberitahu Hala Na Godang agar kembali tenang dan mengingatkannya bahwa masih ada kehidupan manusia di atas punggungnya.

4. Simbolisme dalam Pustaha Laklak

Kisah dan gambaran Hala Na Godang sering ditemukan dalam Pustaha Laklak (kitab kuno Batak dari kulit kayu). Dalam ilmu astrologi dan kalender tradisional Batak yang disebut Pane na Bolon, sosok naga/hala ini digunakan sebagai penentu arah mata angin dan waktu.

Dukun atau Daton akan melihat posisi “kepala” dan “ekor” Hala Na Godang untuk menentukan:

  • Waktu yang baik untuk memulai pertanian.

  • Hari baik untuk membangun rumah.

  • Arah mana yang harus dihindari saat berperang agar tidak tertimpa sial.


Kesimpulan

Hala Na Godang adalah personifikasi dari kekuatan alam yang tak terkendali namun sangat dibutuhkan sebagai fondasi dunia. Ia adalah pengingat bagi manusia bahwa kita hidup di atas sesuatu yang jauh lebih besar dan kuat, sehingga rasa hormat terhadap alam menjadi inti dari kearifan lokal masyarakat Batak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *