BULAN PEJENG

Bali

The Moon of Pejeng is one of Bali’s most iconic and sacred archaeological relics. Located at the Pura Penataran Sasih in Pejeng Village, Gianyar, this object is technically a prehistoric bronze kettledrum (nekara) from the Dong Son culture.

However, for the local community, it is far more than an artifact; it is a divine object shrouded in an ancient legend.

1. The Fall of the Moon

According to local belief, the names “Pejeng” and “Sasih” (which means “moon” in high Balinese) originate from the descent of a celestial moon to Earth.

The legend tells of a time when there were twelve moons illuminating the sky. One night, one of these moons fell from the heavens and became ensnared in the branches of a tree in the forests of Pejeng. The light radiating from the fallen moon was so blindingly bright that it turned the night into day throughout the region.

2. The Tale of the Ill-Fated Thief

This perpetual brilliance frustrated the local thieves, as they could no longer commit their crimes under the cover of darkness.

One particular thief, consumed by anger, climbed the tree with the intent to extinguish the light. Lacking any other means, he decided to urinate on the glowing object. The moment the liquid touched the moon, a massive explosion occurred. The moon instantly lost its glow, cooled down, and transformed into a frozen bronze drum. The thief is said to have been killed instantly by the blast as a result of his insolence.

3. Unique Physical Characteristics

The Moon of Pejeng is renowned in the scientific community as the largest bronze kettledrum in the world cast from a single mold.

  • Dimensions: It stands approximately 1.86 meters high with a striking surface diameter of 1.6 meters.

  • Motifs: The sides are decorated with striking “mask” motifs—human faces with bulging eyes and elongated ears wearing traditional earrings.

  • Archaeological Significance: Scientists believe these motifs represent ancestral spirits or protective deities.

4. Spiritual and Cultural Significance

Today, the Moon of Pejeng is housed in a high shrine (pelinggih) at Pura Penataran Sasih. It is deeply venerated and believed to possess magical powers that maintain the balance of nature.

  • The Temple: The name “Penataran Sasih” literally translates to the “Temple of the Moon.”

  • Veneration: The drum is never struck or lowered. It stands as a symbol of prosperity and spiritual protection for the village of Pejeng and the island of Bali.


The Moon of Pejeng remains a powerful testament to the intersection of Southeast Asian prehistory and the vibrant mythology of Bali.

Bulan Pejeng adalah salah satu peninggalan purbakala paling ikonik dan sakral di Bali. Terletak di Pura Penataran Sasih, Desa Pejeng, Gianyar, benda ini sebenarnya merupakan sebuah nekara perunggu (gendang perunggu) dari zaman prasejarah (kebudayaan Dong Son).

Namun, bagi masyarakat lokal, Bulan Pejeng bukan sekadar artefak arkeologi, melainkan benda suci yang diselimuti legenda turun-temurun. Berikut adalah kisah lengkapnya:


1. Legenda Jatuhnya Sang Rembulan

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, asal-usul nama “Pejeng” dan “Sasih” (yang berarti bulan dalam bahasa Bali halus) berasal dari peristiwa jatuh atau hinggapnya sebuah “bulan” ke bumi.

Dikisahkan bahwa dahulu kala, ada dua belas bulan yang menyinari bumi secara bergantian. Suatu malam, salah satu dari bulan tersebut jatuh dan tersangkut di dahan pohon di sebuah hutan di daerah Pejeng. Cahaya bulan yang jatuh ini sangat terang benderang, sehingga malam hari di daerah tersebut berubah menjadi terang seperti siang hari.

2. Kisah Sang Pencuri yang Sial

Cahaya terang yang terus-menerus terpancar dari pohon tersebut membuat para pencuri merasa terganggu karena mereka tidak bisa melakukan aksinya dalam kegelapan.

Salah seorang pencuri yang merasa kesal kemudian memanjat pohon tersebut dengan niat memadamkan cahaya sang bulan. Karena tidak tahu cara memadamkannya, ia memutuskan untuk mengencingi benda bercahaya tersebut. Begitu air seninya mengenai sang bulan, tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat. Sang bulan pun padam, kehilangan cahayanya, dan berubah wujud menjadi sebuah nekara perunggu yang membeku. Sang pencuri sendiri dikisahkan tewas seketika akibat kesombongannya.

3. Ciri Fisik yang Unik

Bulan Pejeng memiliki bentuk yang sangat khas dan dianggap sebagai nekara perunggu terbesar di dunia yang dibuat dari satu cetakan utuh.

  • Dimensi: Tingginya mencapai 1,86 meter dengan diameter bidang pukul sekitar 1,6 meter.

  • Motif: Bagian pinggirnya dihiasi dengan motif topeng atau wajah manusia yang menonjol dengan mata melotot dan telinga panjang yang memakai anting-anting khas Bali/Jawa kuno.

  • Makna Arkeologis: Secara sains, motif ini sering dikaitkan dengan simbol perlindungan atau representasi nenek moyang.

4. Makna Spiritual dan Budaya

Hingga saat ini, Bulan Pejeng disimpan di sebuah bangunan tinggi (pelinggih) di Pura Penataran Sasih. Masyarakat sangat mengeramatkan benda ini karena dianggap memiliki kekuatan magis untuk menjaga keseimbangan alam.

  • Pura Penataran Sasih: Nama “Sasih” diambil dari kata Sasi yang berarti bulan.

  • Upacara: Nekara ini tidak pernah diturunkan atau dipukul sembarangan. Ia dianggap sebagai simbol kemakmuran dan perlindungan bagi Desa Pejeng dan Bali pada umumnya.


Bulan Pejeng adalah bukti nyata perpaduan antara sejarah prasejarah Asia Tenggara dengan kekayaan mitologi lokal Bali yang masih terjaga hingga milenium ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *