( Lahir : 29 Mei 1927 – Wafat : 3 Februari 2012 )
Air Vice Marshal (Ret.) Raden Jacob Salatun (1927–2012) was a legendary figure in Indonesian aerospace history. He was a scientist, soldier, and politician, widely regarded as the pioneer of space research and Ufology in Indonesia.
Here is the comprehensive information about his profile and contributions:
Brief Profile
| Detail | Description |
| Full Name | Raden Jacob Salatun |
| Born | Banyumas, Central Java, October 29, 1927 |
| Died | Jakarta, February 3, 2012 (Aged 84) |
| Final Rank | Air Vice Marshal (Posthumously promoted to Air Marshal) |
| Title | The Father of Indonesian Aerospace and Space Science |
1. Military and Government Career
Jacob Salatun was part of the founding generation of the Indonesian Air Force (TNI AU). His career spanned various strategic positions:
-
Education: He graduated from the Royal Air Force (RAF) Staff College in Andover, United Kingdom.
-
Ministerial Role: He served as the Minister of Aerospace Industry in the Dwikora III Cabinet (1966) under President Sukarno.
-
Legislative & Diplomacy: He served as a member of the Indonesian Parliament (DPR/MPR) and was active in various international aerospace commissions.
2. Founding of LAPAN and Rocketry Projects
He was the key figure behind the establishment of LAPAN (National Institute of Aeronautics and Space). Alongside his colleagues, he laid the foundation for space research in Indonesia.
-
Chairman of LAPAN: He served as the Chairman of LAPAN from 1971 to 1978.
-
Kartika I Rocket: Under his leadership, Indonesia successfully launched its first scientific rocket, Kartika I, in 1964 in Cilacap. This achievement made Indonesia the second country in Asia (after Japan) capable of launching its own rocket.
3. Father of Indonesian Ufology (BETA)
A unique aspect of Jacob Salatun was his profound interest in UFO (Unidentified Flying Object) phenomena. He viewed these occurrences not as superstition, but as a scientific and national security challenge.
-
The Term “BETA”: He coined and popularized the term BETA (Benda Terbang yang Aneh) as the Indonesian equivalent for UFO.
-
Literary Work: He wrote the phenomenal book “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” (Unveiling the Secrets of Flying Saucers) in 1960. This is considered the first serious Indonesian literature on Ufology.
-
Research: He consistently gathered eyewitness reports of UFO sightings within Indonesian territory for air defense purposes.
4. Prolific Author and Literary Contributions
Jacob Salatun was a prolific writer whose works remain primary references for national aviation history:
-
Ke Udara (Into the Air – 1954)
-
Sejarah Penerbangan Indonesia (History of Indonesian Aviation)
-
Bunga Rampai Kedirgantaraan (Aerospace Anthology)
Legacy and Honors
For his extraordinary services, Jacob Salatun was awarded the Bintang Mahaputera Utama. He passed away in 2012 and was buried at the Kalibata Heroes Cemetery with full military honors. Today, his name is immortalized as one of the main buildings at the LAPAN headquarters (now part of BRIN) in East Jakarta.
“A great nation must master aerospace technology.” — Jacob Salatun’s core philosophy.
Amir Maulana – SKYWORLD
Marsekal Muda TNI (Purn.) Raden Jacob Salatun (1927–2012) adalah sosok legendaris dalam sejarah kedirgantaraan Indonesia. Beliau dikenal sebagai ilmuwan, tentara, politikus, sekaligus pionir penelitian antariksa dan UFO di tanah air.
Berikut adalah rangkuman informasi lengkap mengenai profil dan kontribusi beliau:
Profil Singkat
| Detail | Keterangan |
| Nama Lengkap | Raden Jacob Salatun |
| Lahir | Banyumas, Jawa Tengah, 29 Oktober 1927 |
| Wafat | Jakarta, 3 Februari 2012 (Usia 84 tahun) |
| Pangkat Terakhir | Marsekal Muda TNI (Anumerta Marsekal Madya) |
| Julukan | Bapak Ilmu Penerbangan dan Antariksa Indonesia |
1. Karier Militer dan Pemerintahan
Jacob Salatun merupakan bagian dari generasi awal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Kariernya mencakup berbagai posisi strategis:
-
Pendidikan: Lulusan Royal Air Force Staff College di Andover, Inggris.
-
Menteri: Menjabat sebagai Menteri Perindustrian Penerbangan dalam Kabinet Dwikora III (1966) di bawah Presiden Soekarno.
-
Diplomasi & Legislatif: Pernah menjabat sebagai anggota DPR/MPR serta aktif dalam berbagai komisi kedirgantaraan internasional.
2. Pendirian LAPAN dan Proyek Roket
Beliau adalah tokoh kunci di balik berdirinya LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Bersama rekan-rekannya, beliau meletakkan dasar bagi riset ruang angkasa di Indonesia.
-
Ketua LAPAN: Menjabat sebagai Ketua LAPAN pada periode 1971–1978.
-
Roket Kartika I: Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berhasil meluncurkan roket ilmiah pertama, Kartika I, pada tahun 1964 di Cilacap. Pencapaian ini menjadikan Indonesia sebagai negara kedua di Asia (setelah Jepang) yang mampu meluncurkan roket sendiri.
3. Bapak Ufologi Indonesia (BETA)
Salah satu sisi unik dari Jacob Salatun adalah ketertarikannya yang sangat tinggi terhadap fenomena UFO (Unidentified Flying Object). Beliau memandang fenomena ini bukan sebagai takhayul, melainkan sebagai tantangan ilmiah dan keamanan.
-
Istilah BETA: Beliau mempopulerkan istilah BETA (Benda Terbang yang Aneh) sebagai padanan kata UFO dalam bahasa Indonesia.
-
Karya Tulis: Beliau menulis buku fenomenal “Menyingkap Rahasia Piring Terbang” pada tahun 1960. Ini dianggap sebagai literatur serius pertama mengenai Ufologi di Indonesia.
-
Studi: Beliau terus mengumpulkan laporan saksi mata mengenai penampakan UFO di wilayah Indonesia demi kepentingan pertahanan udara.
4. Karya Literasi dan Penulis Produktif
Jacob Salatun adalah seorang penulis yang produktif. Buku-bukunya menjadi rujukan utama sejarah penerbangan nasional:
-
Ke Udara (1954)
-
Sejarah Penerbangan Indonesia
-
Bunga Rampai Kedirgantaraan
Warisan dan Penghormatan
Atas jasa-jasanya, Jacob Salatun dianugerahi Bintang Mahaputera Utama. Beliau wafat pada tahun 2012 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer. Namanya kini diabadikan sebagai nama salah satu gedung utama di kantor pusat LAPAN (sekarang bagian dari BRIN) di Jakarta Timur.
“Bangsa yang besar harus menguasai teknologi dirgantara.” — Filosofi perjuangan Jacob Salatun.
Amir Maulana – SKYWORLD
