Mula Rilinge’na Sangiang Serri’

Bugis – Sulawesi Selatan

The story of Mula Rilinge’na Sangiang Serri’ (The Origin of Sangiang Serri) is a crucial part of the grand epic of Bugis literature, I La Galigo. In the cosmology of the Bugis people in South Sulawesi, Sangiang Serri is revered as the goddess of rice, a symbol of fertility, and the guardian of food security, equivalent to the figure of Dewi Sri in Java.

Here is the complete story of her creation based on the mythology:

The Birth and Death of We Oddang Riuq

The story begins at the dawn of civilization in Ale Kawa (Earth). The first human sent down by Datu PatotoE (The Supreme God) from Boting Langiq (The Upper World) was Batara Guru.

  • Batara Guru and his wife were blessed with a very beautiful baby girl, whom they named We Oddang Riuq.

  • However, the destiny set by the gods determined that We Oddang Riuq’s existence on earth in human form would be very brief. Only seven days (in some versions, seven months in the womb and seven days on earth) after her birth, the baby passed away.

  • Deeply grieved, Batara Guru buried his daughter in a serene forest.

The Miracle Upon the Grave: Transforming into Rice

Three nights after the burial, Batara Guru, still overwhelmed with longing, visited his daughter’s grave. There, he witnessed a miracle that made him tremble in awe.

  • Above We Oddang Riuq’s tomb grew lush plants that had never existed before. The plants bore grains of various colors—some white, reddish, to golden yellow.

  • Datu PatotoE then spoke from the sky: “That is your child, Batara Guru. Her name is Sangiang Serri. Your child has now transformed into rice.”

  • Since then, Sangiang Serri was destined to sustain and bring prosperity to mankind on earth. Besides rice, some manuscript versions also mention that other parts of We Oddang Riuq’s body transformed into coconut trees and various supplementary food crops.

The Journey with Meong Mpalo Karellae

In carrying out her duties on earth, Sangiang Serri was not alone. She was always accompanied by her loyal guard, Meong Mpalo Karellae, a rare male cat with a three-colored (calico) coat.

  • Initially, Sangiang Serri lived and brought prosperity to the Luwu Kingdom. However, over time, humans became arrogant and neglectful. Rice was wasted, left scattered, eaten by mice at night, and pecked by chickens during the day. Her guard, Meong Mpalo Karellae, was also often abused and chased away by humans.

  • Feeling sad and unappreciated, Sangiang Serri and her cat decided to leave humans and fly back to Boting Langiq to meet her parents.

  • However, upon reaching the gates of the sky, they were not allowed to enter. Datu PatotoE reminded her that Sangiang Serri’s primary destiny was to provide life in Ale Kawa.

  • Finally, they descended back to earth and wandered to various new regions in South Sulawesi (such as Barru, Soppeng, and surrounding areas). In these new lands, Sangiang Serri taught noble farming methods and passed down various pamali (taboos) so that humans would always honor the rice.

Traditional Heritage for Sangiang Serri

This epic tale is not merely an ancient myth, but the root of the work ethic and nature conservation of the agrarian Bugis society. This story birthed a variety of traditions that are still respected today:

  • Maddoja Bine: The tradition of staying awake all night near the rice seeds that are about to be sown. Throughout the night, the community chants the manuscript of Sureq Meong Mpalo Karellae to pray for blessings so the seeds grow abundantly.

  • Mappalili: A ritual ceremony of going down to the rice fields to start the planting season. It is often led by a Bissu (a Bugis spiritual priest) to seek blessings from Sangiang Serri and the gods.

  • Eating Etiquette and Granaries: It gave rise to the philosophy that rice must not be left over, let alone thrown away, so that Sangiang Serri does not “cry”. Furthermore, rice must always be stored in a high and honorable place, such as the rakkeang (the attic of a Bugis stilt house)

Kisah Mula Rilinge’na Sangiang Serri’ (Asal Mula Sangiang Serri) adalah salah satu bagian penting dari epos agung kesusastraan Bugis, I La Galigo. Dalam kosmologi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, Sangiang Serri (atau Sangiyang Serri) dihormati sebagai dewi padi, simbol kesuburan, dan penjaga ketahanan pangan, setara dengan sosok Dewi Sri di tanah Jawa.

Berikut adalah kisah lengkap perjalanan penciptaannya berdasarkan mitologi tersebut:

Kelahiran dan Kematian We Oddang Riuq

Kisah ini bermula pada masa awal peradaban di Ale Kawa (Bumi). Manusia pertama yang diturunkan oleh Datu PatotoE (Dewa Tertinggi) dari Boting Langiq (Dunia Atas) adalah Batara Guru.

  • Batara Guru dan istrinya dikaruniai seorang bayi perempuan yang sangat cantik, yang diberi nama We Oddang Riuq.

  • Namun, suratan takdir dari para dewata menentukan bahwa keberadaan We Oddang Riuq di bumi dalam wujud manusia sangatlah singkat. Hanya berselang tujuh hari (dalam beberapa versi tujuh bulan di kandungan dan tujuh hari di bumi) setelah kelahirannya, bayi tersebut meninggal dunia.

  • Batara Guru yang dirundung duka mendalam kemudian memakamkan putrinya di sebuah belantara yang tenang.

Keajaiban di Atas Makam: Menjelma Menjadi Padi

Tiga malam setelah pemakaman, Batara Guru yang masih diliputi rasa rindu mengunjungi makam putrinya. Di sana, ia menyaksikan sebuah keajaiban yang membuatnya gemetar takjub.

  • Di atas pusara We Oddang Riuq, tumbuh tanaman merimbun yang belum pernah ada sebelumnya. Tanaman itu memiliki bulir-bulir yang menguning dengan berbagai warna—ada yang putih, kemerahan, hingga kuning keemasan.

  • Datu PatotoE kemudian bersabda dari langit: “Itulah anakmu, Batara Guru. Namanya adalah Sangiang Serri. Anakmu kini telah menjelma menjadi padi.”

  • Sejak saat itu, Sangiang Serri ditakdirkan untuk menghidupi dan memakmurkan umat manusia di bumi. Selain padi, beberapa versi naskah juga menyebutkan bahwa bagian tubuh We Oddang Riuq lainnya menjelma menjadi pohon kelapa dan berbagai tanaman pangan pelengkap.

Perjalanan Bersama Meong Mpalo Karellae

Dalam menjalankan tugasnya di bumi, Sangiang Serri tidak sendirian. Ia selalu didampingi oleh pengawal setianya, Meong Mpalo Karellae, seekor kucing jantan langka dengan bulu belang tiga (tiga warna).

  • Pada awalnya, Sangiang Serri hidup dan memberikan kemakmuran di Kerajaan Luwu. Namun, seiring berjalannya waktu, manusia mulai sombong dan abai. Padi disia-siakan, dibiarkan berceceran, dimakan tikus di malam hari, dan dipatuk ayam di siang hari. Pengawalnya, Meong Mpalo Karellae, juga kerap dianiaya dan diusir oleh manusia.

  • Merasa sedih dan tidak dihargai lagi, Sangiang Serri beserta kucingnya memutuskan untuk meninggalkan manusia dan terbang kembali ke Boting Langiq untuk menemui orang tuanya.

  • Namun, sesampainya di pintu langit, mereka tidak diizinkan masuk. Datu PatotoE mengingatkan bahwa takdir utama Sangiang Serri adalah untuk memberikan kehidupan di Ale Kawa.

  • Akhirnya, mereka kembali turun ke bumi dan mengembara ke berbagai wilayah baru di Sulawesi Selatan (seperti daerah Barru, Soppeng, dan sekitarnya). Di wilayah-wilayah perantauan inilah Sangiang Serri mengajarkan tata cara bertani yang luhur dan mewariskan berbagai pamali (pantangan) agar manusia selalu memuliakan padi.

Warisan Tradisi untuk Sangiang Serri

Kisah epik ini bukanlah sekadar mitos usang, melainkan akar dari etos kerja dan pelestarian alam masyarakat agraris Bugis. Cerita ini melahirkan ragam tradisi yang masih dihormati hingga hari ini:

  • Maddoja Bine: Tradisi berjaga semalaman suntuk di dekat benih padi yang akan disemai. Sepanjang malam, masyarakat melantunkan naskah Sureq Meong Mpalo Karellae untuk memohon berkah agar benih tumbuh subur.

  • Mappalili: Upacara ritual turun ke sawah untuk memulai musim tanam, yang sering kali dipimpin oleh Bissu (pendeta spiritual Bugis) untuk memohon restu dari Sangiang Serri dan para dewata.

  • Adab Makan dan Lumbung: Melahirkan filosofi bahwa nasi tidak boleh disisakan apalagi dibuang agar Sangiang Serri tidak “menangis”. Selain itu, padi harus selalu disimpan di tempat yang tinggi dan terhormat, seperti rakkeang (loteng rumah panggung Bugis).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *